Mitos Batu Angkek-Angkek; Terangkatnya Tanda Hajatmu Terkabul, dan Mitos Batu Batikam; Batu Korban Pelampiasan Dua Saudara

Artefak budaya dan peninggalan religius selalu dipercaya memiliki sejarah unik, kekuatan misterius, dan disakralkan sampai sekarang. Dalam lingkup batu misalnya, kita mengenal Hajar Aswad atau batu hitam yang terdapat di ka’ah dan setiap kali ummat Islam mengunjunginya pasti ingin menciumnya. Atau yang waktu-waktu lalu menjadi trend di Indonesai yaitu batu akik, ada yang percaya batu akik dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala, atau di dalam batu itu ada jin atau sosok misterius yang tinggal. Di Minangkabau sendiri terdapat batu-batu yang dipercaya memiliki sejarah dan mitos-mitos yang unik, dua di antaranya adalah batu Batikam dan batu Angkek-Angkek. Apa sejarah dan mitos yang dimiliki batu Batikam dan batu Angkek-Angkek, berikut ulasannya.

1 | Batu Batikam atau batu tertusuk; korban pelampiasan dua saudara

batu batikam

Batu Batikam ini adalah salah satu peninggalan sejarah yang kini telah menjadi artefak budaya di Minangkabau, tepatnya di di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Batu Batikam dalam bahasa Indonesia berarti batu yang tertusuk. Batu ini dikenal sebagai lambang demokrasi. Menurut cerita, dulunya batu ini menjadi tempat musyawarah para leluhur.

Nah mengenai lubang bekas tusukan itu, ceritanya dulu ada saudara kakak beradik bernama Datuak Parpatilah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan.Datuak Parpatilah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan lahir dari rahim ibu yang sama namun berlainan bapak. Suatu ketika mereka berselisih tentang sistem peraturan yang mau diterapkan pada warga setempat. Datuk Parpatian Nan Sabatang menginginkan warga setempat diatur mengunakan sistem yang demokratis, atau dalam peribahasanya “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Sementara Datuak Katumanggungan ingin masyarakat diatur berdasarkan sistem kelas, atau hierarki, yang dalam peribahasa biasa disebut “berjenjang sama naik, bertangga sama turun”. Nah karena perbedaan itu mereka berdua berdebat sangat sengit, dan bertengkarlah mereka. Tapi tenang, mereka tak sampai kisruh saling bacok kok. Kok bisa? Jadi untuk melampiaskan amarahnya, mereka berdua menikam batu tersebut hingga berlubang yang lubangnya sampai saat ini masih bisa kita lihat.

Kuat sekali kan dua kakak beradik itu, sampai-sampai batu yang kerasnya tak karuan bisa berlubang. Nggak kebayang kan bagaimana jadinya kalau mereka berdua bertarung.


2 | Batu Angkek-Angkek

batu angkik-angkik

Selain batu Batikam, rakyat Minangkabau juga punya mitos lain mengenai batu. Batu itu adalah Batu Angkek-Angkek. Ceritanya dulu, lima ratus tahunan yang lalu ada seorang bernama Datuak Bandaro Kayu yang menjadi kepala kaum Suku Piliang. Beliau bermimpi bertemu Syech Ahmad. Dalam mimpi itu Datuak Bandaro Kayu dipesani Syech Ahmad untuk membuat sebuah perkampungan, yang sekarang dikenal dengan nama kampung Palangan.


Namun proses pembuatan perkampungan itu tak berjalan mulus. Saat Datuak Bandaro Kayo membangun tiang pertama untuk rumah gadang, rumah adat Minangkabau, terjadilah peristiwa aneh dan mengerikan. Tiba-tiba bumi bergoncang, atau kita sering menyebutnya gempa lokal, kemudian disusul hujan panas beserta petir yang menggelegar. Itu tidak hanya terjadi pada saat itu saja, tapi berlangsung selama empat belas hari empat belas malam. Akhirnya Datuak Bandaro Kayo beserta petinggi dan warga setempat mengadakan musyawarah. Saat musyawarah itu berlangsung, Bandaro Kayo mendengar suara ghaib. Suara ghaib itu memberitahukan pada Datuak Bandaro Kayo bahwa di lokasi yang hendak dijadikan perkampungan itu terdapat sebuah batu yang harus dijaga. Akhirnya Datuak Bandaro Kayo kembali ke lokasi dan mengambil batu itu. Dan dinamailah batu itu sebagai batu Pandapatan atau yang sekarang lebih dikenal sebagai batu Angkek-Angkek. Batu itu sampai sekarang bentuk dan wujudnya masih utuh, sama seperti saat pertama kali ditemukan. Namun anehnya, meski wujud dan bentuknya masih utuh, beratnya selalu berubah-ubah kapan saja. Terkadang berat batu itu 1kg, tiba-tiba berubah menjadi 2kg, bisa juga sampai 10kg.  sekarang batu menjadi objek wisata dan memilik sugesti bahwa barangsiapa yang sanggup mengangkat batu itu hajatnya akan terkabul. Namun warga setempat mewanti-wanti untuk jangan menjadikan terangkatnya batu itu sebagai tanda terkabulnya hajat, karena nanti jatuhnya ke syirik.

Nah itu dia dua mitos tentang batu yang ada Minangkabau. Nanti kita lanjut lain waktu cerita-cerita tentang batu-batu yang tersebar di Minangkabau.

Baca juga 4 Mitos Batu Akik yang Sulit Dipercaya

Belum ada Komentar untuk "Mitos Batu Angkek-Angkek; Terangkatnya Tanda Hajatmu Terkabul, dan Mitos Batu Batikam; Batu Korban Pelampiasan Dua Saudara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel