5 Misteri dan Keanehan Keraton Solo

Keraton Solo adalah Keraton Kesultanan Surakarta yang terletak di pusat kota Solo, tepatnya di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Bangunan ini didirikan dari tahun 1743 sampai 1745 oleh Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) sebagai arsiteknya. Sehingga wajar jika bangunan ini sekilas mirip keraton Jogjakarta yang sebagian berasal dari kayu dari Alas Kethu, Wonogiri. Tentunya suasana magis dan mistis sangat kental disana, karena banyak peninggalan-peninggalan kuno dan pusaka yang konon memiliki nyawa. Setiap suro, selalu diadakan kirap dan permandian pusaka yang harus dilakukan oleh abdi dalem keraton. Banyak misteri yang menyelubungi tempat yang tua ini, simak semua misterinya dibawah ini.

1 | Pusaka Rojomolo

rajamala

Pusaka Rojomolo adalah pusaka paling mistis di Keraton Solo. Pusaka ini berupa kepala Rajamala (Raja Malapetaka), tokoh pewayangan dengan wajah menyeramkan. Dulu pusaka Rojo Molo digunakan sebagai hiasan pada perahu Sultan Pakubuwono VII yang dipasang di bagian ujung perahu (chantik). Perahu tersebut dulunya adalah milik Joko Tingkir dinamai Prahu Kyai Rajamala dan digunakan menyusuri sungai Bengawan Solo. Dari sejarahnya saja, pastinya sudah tidak diragukan lagi kesaktiannya. Banyak kejadian aneh pada pusaka ini, seperti bau amis saat tidak diberi sesaji dan pusaka ini sangat sulit dipindahkan atau dikeluarkan dari ruang penyimpanannya. Pengurus museum rencananya ingin memindahkannya ke tempat yang lembab dan lebih terang namun entah mengapa pusaka itu lebih memilih tempat yang sempit dan gelap.

2 | Kyai Slamet

kyai slamet

Mungkin Anda mengira Kyai Slamet adalah seorang manusia, tapi tidak di keraton Solo. Kyai Slamet adalah hewan memamahbiak berupa Kerbau berkulit putih (albino). Kerbau ini disucikan dan disakralkan oleh Keraton Surakarta karena dulu kerbau ini berjasa memadamkan kebakaran yang terjadi di keraton pada masa pemerintahan Sultan Agung. Saat itu semua bagian keraton kebakaran, namun kandang kebo bule dan tombak tak tersentuh api sedikitpun. Kebo bule dan tombak, dikirap mengelilingi keraton saat kebakaran, dan ajaibnya api berangsur-angsur padam. Karena kebaikannya, akhirnya keraton memberi gelar Kyai Slamet kepada tombak dan kerbau.

Alhasil kerbau Kyai Slamet dihormati oleh semua orang bahkan kerbau tersebut dibiarkan di sekitar pasar Gading di dekat keraton. Uniknya kerbau Kyai Slamet tidak memakan dagangan warga, padahal banyak sayur dan buah-buahan berserakan namun justru warga ingin dagangan mereka dimakan si kerbau, mereka percaya dagangan akan habis laris setelah dimakan kerbau sakti ini. Ketika kerbau buang hajat, warga memperebutkan kotorannya supaya dapat berkah.

3 | Kyai Sri Kuncoro Mulyo

gamelan

Lagi lagi bukan manusia, Kyai Sri Kuncoro Mulyo adalah sebuah instrumen gamelan kuno milik Keraton Surakarta Hadiningrat yang sekarang berada di Studio Lokananta. Gamelan ini sudah ada sejak jaman Pangeran Diponegoro, biasanya dimainkan pada waktu-waktu tertentu sesuai weton (penanggalan Jawa). Aura mistis sudah lama melekat di Gamelan Kyai Sri Kuncoro Mulyo, sesaji selalu tersedia di dekat gamelan serta ritual-ritual khusus juga terkadang diadakan untuk meruwat gamelan ini. Menurut penjaga studio, pada tengah malam gamelan keramat ini bisa bunyi sendiri tanpa ada yang memainkannya. Jika Anda ingin membuktikannya silahkan langsung menuju Jalan Ahmad Yani No. 387, Solo, Jawa Tengah.

4 | Kanjeng Nyai Setomi

nyai setomi

Kotak kaca ini lah rumah Kanjeng Nyai Setomi yang adalah benda pusaka keraton berupa meriam kuno. Dulu meriam ini digunakan untuk menggempub VOC di jaman Belanda dan sukses mengusir penjajah, sehingga meriam ini menjadi pusaka yang dikeramatkan oleh pihak Keraton Surakarta. Nyai Setomi memiliki pasangan bernama Kyai Setomi yang berada di Museum Nasional Jakarta, konon Nyai Setomi sering menangis karena rindu akan suaminya tersebut. Setiap 3 kali setahun, atau tepatnya saat Hajad Dalem Garebeg Pasa, Garebeg Besar, dan Garebeg Maulud, Nyai Setomi dipertontonkan dan di jamasi menggunakan campuran air dan minyak goreng yang disebut lisah sangga langit. Air jamasan tersebut selalu laris diperebutkan warga, ada yang digunakan untuk mandi, cuci muka, bahkan meminumnya. Mereka percaya air berwarna kecoklatan tersebut memiliki khasiat menyembuhkan penyakit dan kesehatan.

5 | Panggung Sangga Buwana

panggung sangga buwana

Panggung Sangga Buwana berlokasi di dalam lingkungan kedhaton Keraton Kasunanan Surakarta. Bangunan ini mudah ditemukan karena merupakan bangunan tertinggi di Keraton Surakarta. Cirinya khas yang menonjol adalah bentuknya segi 8 dengan hiasan naga yang dikendarai orang sambil memanah. Seperti tempat lainnya, Panggun Sangga Buwana juga dikeramatkan warga sekitar, karena konon tempat ini digunakan oleh raja Surakarta untuk bertemu Ratu Kidul. Bangunan yang didirikan segaris lurus dengan jalan keluar ke arah Wonogiri sehingga memudahkan komunikasi dengan Ratu Pantai Selatan. Sesaji dan ritual-ritual tersebut diadakan pada lantai paling puncak. Selain untuk meditasi menara ini juga difungsikan sebagai menara pengawas daerah sekitar keraton.

Recomendation

loading...
Previous
Next Post »
0 Komentar

kam