Cara Mudah Memandikan Keris dan Benda Pusaka Lainnya

keris

Memandikan pusaka merupakan kewajiban semua orang yang memiliki keris, atau benda pusaka lainnya (tombak, pisau, cupu manik, dll). Konon, di dalam benda tersebut bersisi roh makhluk kasat mata yang memberikan kesaktian. Bila tidak dirawat dan dibersihkan maka orang yang dititipinya akan diganggu penunggu benda pusaka tersebut. Kadang bisa berbunyi, bergerak-gerak sendiri dan mengeluarkan bau busuk. Parahnya penunggu tersebut akan menghilang dan daya kesaktian benda itupun akan menghilang pula. Untuk itu sangat diperlukan memandikan benda-benda keramat ini.

Beberapa kerajaan di Indonesia hingga saat ini masih melakukan ritual pemandian pusaka nenek moyang mereka tiap tahunnya, seperti di kesultanan Surakarta dan Jogjakarta. Mereka memandikannya setiap malam sasi Suro dalam penanggalan Jawa. Karena malam ini dianggap sakral, waktu dimana para makhluk astral berkeliaran, yang bisa menambah kesaktian. Walau tidak bisa dibuktikan secara ilmiah ritual permandian keris secara mistis masih dilakukan, mungkin para tetua menginginkan demikian supaya peninggalannya terawat dan tidak ditinggalkan.

Jika anda memiliki benda pusaka, sudah sepantasnya memandikannya tiap malam 1 Suro. Pastikan anda memandikannya antara jam 11 - jam 2 malam. Berikut ini beberapa cara yang bisa anda terapkan untuk memandikannya, cukup mudah namun berguna untuk menjaga pamornya dan kesaktiannya supaya tidak pudar.

Siapkan Alat dan Bahan

Sebelum memandikannya, alangkah baiknya menyiapkan alat dan bahan untuk ritual pemandiannya.
  • Tikar
  • Baskom
  • Kain kafan
  • Kembang setaman (kembang melati, kembang kanthil, mawar merah dan putih, dan bunga kenanga)
  • Kemenyan
  • Dupa
  • Minyak Wangi
  • Blimbing Wuluh
  • Jeruk Nipis
Siapkan tikar, lalu letakkan di bawah sebagai alas ritual, selanjutnya ambil baskom, isi dengan air secukupnya saja tidak usah terlalu penuh kurang lebih setengah baskom sudah cukup. Letakkan di tengah tikar, lalu masukkan kembang setaman kedalam air di baskom. Letakkan kain kafan kemenyan dan dupa di dekat baskom. Dan yang terakhir taruh kotak yang berisi pusaka di dekat baskom.

Memulai Ritual

Duduklan bersila mulai nyalakan dupa dengan kemenyan, sebelum mengambil pusaka dari tempatnya terlebih dahulu pastikan kondisi tangan steril dari kotoran dan debu, cucilah tangan terlebih dahulu menggunakan sabun atau semprot dengan alkohol. Setelah itu ambil kain kafan lalu gunakan untuk mengambil benda pusaka dalam tempat persemayamannya dengan sangat hati-hati, jika sudah ada kafan yang membalut pusaka, lepas terlebih dahulu. 

Rendam dalam baskom, lalu basuhlah untuk menghilangkan dari debu dan kotoran yang menempel. Setelah debu dan kotoran hilang, ambil blimbing wuluh iris menjadi 2 lalu gosok-gosokkan bagian yang diiris ke pusaka untuk menghilangkan karat. Gosok secara halus jangan sampai menggores atau merusak ukiran-ukiran yang rumit di permukaannya. Ambil jeruk nipis, peras dan teteskan dari ujung sampai pangkal benda pusaka secara merata, diamkan sekitar 1 menit, lalu basuh dengan air kembang setaman di baskom tadi. 

Akhirnya, tinggal tiriskan pusaka dari baskom, taruh diatas kain kafan sambil diusap-usap untuk mengeringkannya. Jangan lupa menyemprotkan minyak wangi secukupnya untuk menjaga kesegarannya. Setelah kering bungkus kembali dengan kain kafan yang baru dan secara perlahan masukkan kembali kedalam kotak tempat pusaka itu berasal.

Demikian cara yang bisa, anda coba untuk memandikan pusaka supaya lestari, selain atu Suro, anda juga bisa memandikannya setiap malam Jumat Kliwon bila perlu. 

Recomendation

loading...
Previous
Next Post »
0 Komentar

kam