Misteri Wayang Jimat yang Terbuat Dari Kulit Manusia

wayang jimat

Pagelaran wayang tradisional Jawa biasanya terbuat dari kulit binatang sehingga disebut Wayang Kulit, namun Wayang Kulit di desa Ndakan Magelang, Jawa Tengah ini disebut Wayang Jimat karena diyakini memiliki kekuatan gaib. Meski Wayang Jimat ada 80 karakter, menariknya ada satu karakter bernama Arjuna alias Janoko yang dipercaya memiliki kekuatan supernatural atau magis karena terbuat dari kulit manusia, sedangkan karakter lainnya di Wayang Jimat terbuat dari kulit sapi. Jimat dalam bahasa Jawa berarti suatu benda yang memiliki kekuatan supernatural.

Selama beberapa ratus tahun sampai sekarang, Wayang Jimat hanya boleh disimpan dan gelar di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merbabu yang disebut Desa Ndakan. Menurut Sumitro (70), sesepuh desa, pada jaman dulu Wayang Jimat diberikan oleh Raja Keraton Surakarta kepada Ki Ajar Ndaka sebagai hadiah karena ia telah berhasil menyembuhkan sang pangeran.

Ki Ajar Ndaka adalah pertapa dari lereng Gunung Merbabu. Raja Keraton Surakarta mendengar bahwa dia memiliki keterampilan medis yang luar biasa, jadi sang raja tersebut membawa anaknya untuk menemui Ki Ajar Ndaka dengan harapan pertapa tersebut dapat menyembuhkan penyakit anaknya. Dia menyanggupi permintaan raja lalu membacakan mantera dan memberi beberapa ramuan jamu tradisional, setelah itu dia memerintahkan pangeran untuk kembali ke Keraton dan beristirahat.

Beberapa hari kemudian, penyakitnya secara bertahap sembuh. Segera setelah itu, raja memberi perintah kepada tentaranya untuk membawa Ki Ajar Ndaka ke Keraton Surakarta sebagai tamu terhormat. Pada awalnya, Raja ingin menunjuk dia sebagai salah satu keluarga kerajaan, namun sang pertapa itu menolaknya. Kemudian Raja ingin memberinya sebidang tanah dan banyak koin emas, dia juga menolaknya. Setelah berbagai hadiah yang dengan rendah hati dia tolak, sang Raja memberinya salah satu pusaka Keraton berupa peti kayu yang berisi Wayang Jimat. Akhirnya, dia menerima hadiah itu dengan senang hati.

Ia membawa peti kayu itu ke tempatnya di lereng Gunung Merbabu. Dia merawat pusaka Keraton dengan baik sampai dia meninggal. Sesaat sebelum meninggal, dia menyarankan agar Wayang Jimat diperlakukan dengan baik dan harus digunakan untuk menghibur orang. Namun, ia tidak menginginkan Wayang Jimat diwariskan kepada keturunannya melainkan kepada para tetua desa. Untuk mengenang jasanya bagi desa, masyarakat setempat menamai desa tersebut sebagai Desa Ndakan.

Sumitro yang telah dipercaya untuk menjaga Wayang Jimat selama 30 tahun mengatakan, pusaka ini harus dirawat oleh sesepuh desa dari generasi ke generasi yang mampu merawatnya dengan baik, bukan oleh orang luar selain para tetua. Sekarang, pusaka itu tersimpan di dalam rumah Sumitro. Disimpan di dalam peti kayu asli yang terbuat dari kayu Jati dengan panjang 3 meter dan lebar 1 meter serta tinggi setengah meter, persis seperti saat Ki Ajar Ndaka menerimanya dari Raja Keraton Surakarta.

peti wayang jimat

Sumitro mengatakan, hanya karakter Arjuna yang terbuat dari kulit manusia. Konon berasal dari kulit seorang pemuda yang tinggal di sekitar Surakarta saat Keraton Surakarta belum terbentuk. Namun, dia tidak tahu siapa pemuda itu. Secara umum, karakter Arjuna memiliki tubuh mungil, hidung mancung dan tinggi. Biasanya, ia memiliki kulit kuning cerah, namun Arjuno di Wayang Jimat memiliki kulit yang lebih gelap, jika disentuh maka akan terasa lebih lembut, lebih ringan dan lebih tipis dari biasanya.

Saat pertama kali Sumitro menyimpan Wayang Arjuna di peti kayu, seringkali ia mendengar suara keras terdengar seperti seseorang yang mengetuk dari dalam peti itu setiap Jumat malam Kliwon. Anehnya, suara ketukan itu mereda saat dia memberikan persembahan di bagian atas peti. Jadi, setiap Jumat Kliwon ia rutin memberi sesajen bunga, dupa dan air di atasnya. Selain itu, di dalam peti ada huruf yang tertulis di daun lontar. Tidak ada yang bisa menerjemahkan surat itu sampai sekarang. Mungkin di situlah letak rahasia Wayang Arjuna.

Sebelum pertunjukan Wayang Jimat, orang harus menyiapkan sesaji sehingga pertunjukan akan berjalan dengan baik. Mereka menjelaskan bahwa Sumitro yang sebagai dalang selalu kesurupan saat ia menjalankan pertunjukan Wayang Jimat. Yang menarik adalah dia tidak tahu ceritanya sampai dia selesai.

"Hanya tetua desa yang mampu memainkannya terutama karakter Arjuna. Bila dilakukan oleh dalang lain, Wayang Arjuna terasa berat dan tangan dalang akan goyah," kata Sumitro. Hal ini juga harus dilakukan setidaknya dua kali setahun di Desa Ndakan pada bulan Sapar dan Syawal, dua bulan ini dipercaya sebagai waktu yang baik sesuai dengan kalender Jawa.

Baca Juga Misteri Desa Legetang yang Hilang Dalam Semalam

Recomendation

loading...
Previous
Next Post »
0 Komentar