Misteri Desa Legetang yang Hilang Dalam Semalam

Baca Juga

gunung Pengamun-Amun

Desa Legetang adalah sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari Dataran Tinggi Dieng, kira-kira 2 kilometer ke arah utara Banjarnegara. Desa Legetang terletak di desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, masih berada di daerah pegunungan Dieng, Petarangan. Penduduk desa cukup makmur dan kebanyakan petani cukup sukses. Mereka menanam sayuran, kentang, wortel, kol, dan sebagainya. Namun, dibalik semua kesuksesan yang mereka capai, mereka banyak melakukan perbuatan tidak bermoral. Kebanyakan dari mereka adalah seorang penjudi, begitu juga banyak yang mabuk sepanjang hari di desa ini. Setiap malam mereka menggelar pertunjukan lengger, sebuah kesenian tradisional yang dilakukan oleh penari wanita, yang kerap mengarah pada perzinahan. Menurut cerita yang diturunkan, satu-satunya masjid di Legetang bahkan dijadikan tempat untuk membesarkan anjing dan area perjudian.

Pada sore hari tanggal 17 April 1955, hujan deras menerjang desa. Dikala penduduk desa masih tenggelam dalam dunia gelap. Saat hujan berhenti di tengah malam, tiba-tiba terdengar suara nyaring seperti bom besar yang terjatuh disana, seperti suara benda berat yang jatuh. Suara itu terdengar sampai ke desa-desa tetangga. Tapi malam itu tidak ada yang berani keluar karena jalannya sangat gelap dan licin.

Keesokan paginya, masyarakat sekitar desa Legetang penasaran dengan suara misterius pada malam sebelumnya. Pada saat itu, terlihat bahwa puncak Gunung Pengamun-Amun telah hilang sebagian. Ternyata telah terjadi longsor yang telah menimbun desa Legetang. Desa yang menjadi lembah tidak hanya diratakan, tapi juga menjadi gundukan tanah liat baru yang menyerupai bukit. Seluruh penduduk sudah meninggal, dikubur hidup-hidup didalamnya.

Jika Gunung Pengamun-Amun longsor, maka longsoran biasanya hanya mengubur sungai di bawahnya. Namun, kejadian ini bukan longsor biasa, tetapi ada kejanggalan lain, karena sungai dan jurang yang memisahkan Legetang dan Puncak gunung masih ada sampai sekarang. Sebenarnya, jarak antara gunung dan desa jauh sekali, jadi masih menjadi misteri bagaimana tanah longsor bisa mengubur desa. Jadi, seolah-olah tanah longsor terbang dari gunung lalu menabrak desa.

Hilangnya desa Legetang dan penghuninya masih menjadi misteri, karena Suhuri yang tinggal di desa Pekasiran dan beberapa warga desa lainnya yang masih hidup. Ia  mengatakan bahwa antara kaki gunung ke perbatasan daerah pemukiman di Desa itu tidak terkubur, meski jaraknya hanya beberapa ratus meter.

"Tanah longsor seperti terbang dari sisi gunung dan jatuh tepat di permukiman. Aneh sekali," kata Suhuri sambil menjelaskan. Saat itu semua orang tercengang dengan diselimuti atmosfir yang menyeramkan saat melihat seluruh kawasan desa Legetang terkubur. Bahkan tidak ada bagian rumah yang terlihat. Juga tidak ada satu tanda-tanda kehidupan disana" kata Suhuri. Sekarang, di puncak bukit desa yang naas itu, ada sebuah tugu peringatan yang dipasang oleh pemerintah daerah dengan tulisan di atasnya.

pengamun-amun

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955”

Baca Juga Misteri Hilangnya Peradaban Machu Picchu

Recomendation

loading...
Previous
Next Post »
1 Komentar
avatar

wahh suasana yang mistis pasti sangat terasa sekali disana..

Balas

kam