Beginilah Asal Mula Fenomena Om Telolet Om

om telolet om

Akhir akhir ini kita pasti sering mendengar kata om telolet om, entah itu di media sosial, internet, tv, radio, media cetak bahkan merambah sampai ke musik dan lagu. Semua orang di indonesia bahkan di dunia sepertinya sedang demam telolet. Sebenarnya, apa maksud dari kata tersebut dan mengapa kata-kata tersebut menjadi trending di awal tahun 2017. Pada postingan ini kita akan bahas fenomena om telolet om dari terciptanya kata telolet sampai menjadi trending.

Pertama-tama kita akan membahas tentang maksud dan asal muasal kata tersebut:

Om:
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata om berarti:

  1. Seruan (doa) kepada dewa (dalam agama Hindu dan Buddha); pembukaan mantra;
  2. Kakak atau adik laki-laki ayah atau ibu;
  3. Panggilan kepada orang laki-laki yang agak tua;
Ada 3 definisi om menurut KBBI, tentunya untuk kalimat "om telolet om" tidak berhubungan dengan pengertian pertama yaitu sebagai seruan kepada dewa dalam agama hindu, karena agama hindu tidak pernah menggunakan kalimat om telolet om sebagai mantra melainkan "om santi om". Jadi pengertian om disini mengarah ke definisi nomor 2 atau 3.

Telolet: 
Kata telolet tidak terdapat dalam KBBI, Mungkin karena kata ini tidak resmi atau termasuk bahasa lain yang tidak diketahui artinya. Tapi jika kita meresapi dan mengucapkan kata telolet pasti kita merasa seperti mendengar instrumen musik, terompet atau klakson kendaraan. Jadi kata telolet bisa diartikan kata yang mirip atau tercipta dari suatu bunyi. Sama seperti kata pret, prot, prit, tingtong, tongteng, kretek-kretek, tilolit, dll.

Om Telolet Om
Dari pengertian diatas tersebut kita bisa menduga bahwa kalimat tersebut digunakan saat orang mengingatkan atau meminta sesuatu kepada orang yang lebih tua mengenai bunyi telolet. Lalu bunyi apakah itu dan siapakah subjek yang dimaksud? dimana dan kapankah kata ini pertama kali digunakan? mari kita lanjutkan pembahasan ke asal mula kata tersebut.

Awal mula
Dilansir dari laman berita detik.com bunyi telolet pertamakali digunakan kendraan di daerah timur tengah untuk mengusir unta yang berkeliaran di jalanan. Kemudian pada tahun 2002 ada pengusaha otobus PO Efisiensi bernama Teuku Erry Rubihamsyah yang tertarik dengan suara tersebut. Beliau membawa pulang klakson itu ke Indonesia dan memasangnya pada armada busnya sebagai ciri khas. 
Namun masyarakat pada waktu itu malah tidak senang dan merasa terganggu dengan bunyinya. Sehingga pada waktu itu klakson telolet jarang digunakan. Selang waktu berlalu sekitar 5 tahun, klakson telolet semakin digemari masyarakat malah mereka meminta untuk membunyikannya. Terutama ketika bus-bus melewati sekolah di jalur bus Cilacap, Jogja, Purwokerto, Banyak anak-anak berteriak atau menunjukkan tulisan kertas supaya sopir membunyikan klakson telolet. Jika bus membunyikannya anak-anak pun girang dan senang, ini menjadi mainan dan hiburan baru bagi mereka.

om telolet


Pada waktu itu fenomena om telolet om masih belum viral dan dianggap wajar saja, Hingga suatu hari ada seseorang di facebook yang membuat suatu post yang menunjukkan video yang berisi orang-orang yang berlomba berburu klakson telolet. Tak disangka video tersebut menarik perhatian para netizen dan menyebar ke akun yang lain hingga menjadi viral. Tak hanya di facebook di youtube dan media social lain pun juga menjadi viral dan trending topic. Tak hanya di Indonesia tapi di mancanegara juga heboh para musisi dunia seperti DJ Snake, Martin Garrix, Zedd, Hingga mereka menciptakan musik remix DJ dari bunyi telolet. Tak hanya itu postingan presiden Amerika Donald Trump di twitter juga dibanjiri komentar telolet.

telolet donald trump

Sampai postingan ini diterbitkan om telolet om masih sering terdengar, terutama di acara tv, lagu dangdut, goyangan. Entah sampai kapan fenomena om telolet om akan berakhir. Biasanya trend ini tidak akan bertahan lama seperti tren-tren sebelumnya. Jadi sudah jelas sekarang asal usul fenomena om telolet om yang mendunia. Apapun trend yang akan datang ada baiknya kita menyaring sisi positifnya dan jangan sampai berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari.

Recomendation

loading...
Previous
Next Post »
0 Komentar